Jalan Jalan & Belanja Ke Bangkok Thailand Rotating Header Image

Lalu Lintas di Bangkok

Ada satu hal unik lagi di jalan raya bangkok dan sekitarnya. Unik tapi menjengkelkan bagi pengendara lain. Jika ada tabrakan dan tidak ada pihak yang mengaku bersalah, maka mobil yang terlibat accident tidak akan dipinggirkan sampai petugas asuransi atau polisi tiba. Meskipun posisi mobil ada di tengah jalan dan menghambat pengendara lain, yang tentu saja membua kemacetan yan sangat parah, apalagi jika terjadi di tengah kota dan pada jam-jam sibuk.

Saya terkesan dengan kesabaran orang-orang thailand untuk menerima kondisi itu. Jika kondisi ini terjadi di jakarta, barangkali mobil sudah ditimpuki dan disumpahi para pengendara lain yang terimbas kemacetan.

Untuk masalah kedisiplinan berkendara, tabiat pengemudi di bangkok dan jakarta hampir sama. Apalagi pengemudi angkutan umum dan tuk tuk, sering mengemudi kencang, ugal-ugalan, dan tidak mau mengalah. Pernah suatu kali teman saya naik Tuk-Tuk yang berjalan sangat kencang, dia meminta sopir tuk-tuk untuk lebih berhati-hati. Dengan santainya sang sopir berkata “Kalau mau hati-hati, tarifnya naik dua kali lipat :) “.

Tapi ada sedikit yang beda dengan jakarta, yaitu bunyi klakson. Semacet-macetnya jalan, sekesal-kesalnya di jalan, hampir tidak pernah ada bunyi klakson dari para pengemudi.

Ya, itulah sekelumit kisah dari jalan raya Bangkok.

“If Life Is So Short….”

Berikut tulisan yang sangat inspiratif dari Pak Agung Basuki, pengeloal travel hemat. Mas Agung, ijin mengutip ya. 

If Life Is So Short….”

Oleh Agung Basuki TravelHemat.com

Saya pertama kali bertemu dengan Charles dan Linda Graham saat pasangan asal Amerika itu ikut serta dalam rombongan tur ke Eropa Barat yang saya pimpin, kira-kira 14 tahun yang lalu. Ketika itu mereka mengadakan perjalanan dalam rangka memperingati ulangtahun emas perkawinan mereka. Saya banyak berkomunikasi dengan mereka sebab mereka duduk di baris pertama pada bus yang kami kendarai sepanjang perjalanan, tepat di belakang bangku tempat duduk saya.

Selama 14 hari perjalanan mengunjungi 9 kota di 5 negara, pasangan yang sudah berusia lebih dari 70 tahun itu kerap menjadi perhatian saya. Bukan karena saya mengkhawatirkan kondisi fisik mereka yang mungkin kelelahan akibat perjalanan panjang, karena untuk ukuran kebanyakan orang seusianya, mereka tergolong cukup sehat dan lincah. Yang saya perhatikan justru bagaimana mereka tampak begitu menikmati setiap momen dalam perjalanan tersebut.

Pengamatan’ yang saya lakukan secara sembunyi-sembunyi terhadap mereka –entah dengan mencuri pandang melalui kaca spion bus yang kebetulan mengarah langsung pada mereka, atau memperhatikan bagaimana mereka berunding untuk menentukan mau pergi ke mana ketika acara bebas—membuat saya melihat ada sesuatu yang ‘berbeda’ diantara keduanya dibandingkan para peserta lain. Keduanya tampak sangat ceria, yang terpancar jelas dari raut wajah mereka yang sudah dipenuhi keriput.

Rasa penasaran saya atas pasangan Charles dan Linda belum sempat terjawab ketika perjalanan yang kami lakukan sudah harus berakhir. Seluruh rombongan berpisah untuk kembali ke tempat tinggal masing-masing, sementara saya melanjutkan hidup saya seperti biasa.

Setahun berikutnya, ketika ditugaskan untuk memimpin sebuah rombongan tur ke Eropa Timur, secara tak sengaja saya bertemu lagi dengan Charles dan Linda yang ternyata juga ikut serta dalam rombongan tur yang saya pimpin saat itu. Kali ini mereka melakukan perjalanan untuk merayakan ulangtahun perkawinan yang ke-51.

Lantaran sudah saling kenal sebelumnya, kami menjadi cepat akrab. Sebenarnya, saat itu saya hanyalah seorang tur leader pengganti lantaran tur leader yang seharusnya memimpin perjalanan tersebut mendadak jatuh sakit. Di awal perjalanan, saya berterus terang kepada para peserta tur bahwa saya kurang familiar dengan rute perjalanan kali ini.

Di luar dugaan, Charles secara diam-diam berbicara banyak tentang saya kepada para peserta tur lainnya berdasarkan pengalaman yang dialaminya saat ikut serta dalam rombongan tur yang saya pimpin setahun sebelumnya. Tentang bagaimana saya sudah menjadi tur leader yang menurut dia sangat baik dan caring serta berbagai hal-hal positif lainnya.

Berkat dia pulalah, sebagian besar peserta tur jadi memiliki penilaian positif terhadap saya. Konsekuensinya, saya jadi lebih tertantang untuk berbuat semaksimal mungkin, memberikan kualitas layanan yang terbaik dan memuaskan.

Pengalaman memimpin grup tur ke Eropa Timur saat itu adalah awal perjalanan karir saya sebagai seorang tur leader, namun justru di saat saya merasa banyak kemungkinan untuk melakukan kesalahan karena minimnya ‘jam terbang’ dan penguasaan medan, hampir seluruh peserta tur malah memberikan dukungan positif atas apa yang saya lakukan saat itu sehingga saya merasakan situasi yang nyaman sepanjang perjalanan tersebut. Dan semua itu disebabkan karena berbagai pernyataan positif yang disampaikan oleh Charles.

Hidup ini terlalu singkat untuk dijalani, kalau bisa membuatnya lebih indah, kenapa harus dijalani dengan airmata. Kalau bisa memotivasi orang lain dengan pujian, mengapa kita harus menyampaikannya dengan celaan?” demikian kata Linda saat saya menyampaikan terimakasih atas ‘promosi’ yang dilakukan suaminya untuk saya.

Prinsip life is too short yang dianut oleh Charles dan Linda itu membuat saya merenung tentang makna hidup yang sudah saya jalani saat ini. Usia pernikahan yang mereka jalani hingga sanggup mencapai angka di atas 50 tahun adalah suatu hal yang langka, dan menurut saya perjalanan hidup mengarungi kehidupan selama 70 tahun lebih bukanlah waktu yang singkat pula.

Kita tidak pernah tahu kapan hidup ini bakal berakhir, kapan saat terakhir kita bakal bertemu dengan orang yang kita kasihi. Bisa saja besok saya atau kamu dipanggil Tuhan, dan alangkah menyesalnya kita ketika menyadari betapa banyak hal yang sebenarnya ingin kita capai, ternyata tidak pernah terwujudkan.

Jika setiap saat kita berpikir bahwa hidup ini terlalu singkat untuk dijalani, maka kita akan termotivasi untuk memberikan makna terbaik pada hari-hari yang kita jalani saat ini,” demikian ungkap Charles panjang lebar. “Dan jika pada kenyataannya kita diberi anugerah untuk menjalani hidup ini lebih lama, bukankah hari-hari yang sudah kita lalui bakal menjadi rangkaian kenangan nan indah?

Selama kehidupan pernikahan kami, rasanya kami tidak sempat meributkan hal-hal kecil karena waktu kami telah tersita dengan pemikiran bagaimana mengisi hari-hari ‘pendek’ kami dengan sebaik mungkin.”

Perkataan Charles dan Linda itu terus melekat di benak saya hingga kini. Prinsip hidup yang mereka anut telah berhasil mempengaruhi jalan pemikiran saya, sehingga sejak saat itu saya menjalani kehidupan dengan lebih bersemangat.

Ketika menikah beberapa tahun yang lalu, saya bersama istri juga telah bersepakat untuk menjalani kehidupan ini dengan prinsip ‘life is so short’. Setiap saat kami selalu berpikir bagaimana caranya agar mengisi hari-hari kami dengan sebaik mungkin. Peringatan hari ulang tahun saya dan istri, maupun ulangtahun pernikahan, kami menjadi ajang untuk introspeksi tentang hari-hari yang telah kami lewati bersama, sekaligus merencanakan apa yang akan kami lakukan untuk kurun waktu setahun ke depan.

Kami menjadi lebih ekspresif dalam mengungkapkan isi hati dan perasaan masing-masing dan tidak ragu-ragu untuk saling mempersembahkan yang terbaik dan berupaya untuk saling membahagiakan satu sama lain. Setiap kali ada konflik yang terjadi, kami berupaya untuk menyelesaikannya dengan sesegera mungkin.

Banyak orang yang mengatakan bahwa kehidupan rumah tangga yang kami jalani barulah ‘seumur jagung’, sehingga saat ini kami baru menikmati yang manis-manis saja. Memang benar, selama hampir dua tahun kehidupan pernikahan kami, hampir bisa dipastikan kami jarang bertengkar. Perselisihan memang ada, namun kami berdua senantiasa mengupayakannya agar persoalan yang kami hadapi tidak melebar dan meluas ke mana-mana. “If you can make it simple, why make it hard?”, begitu kata Linda.

Apabila setiap saat kami mempertahankan prinsip yang sama dalam menjalani hidup ini, dan ketika nantinya kami dikaruniakan umur panjang untuk bisa merayakan ulangtahun pernikahan yang ke-10, 20, 30 atau bahkan yang ke-50 seperti Charles dan Linda, wow…. betapa bernilainya hari-hari yang telah kami jalani selama ini, dan betapa banyak kenangan indah yang telah terukir sepanjang kehidupan ini.

Dan kalaupun toh kami tidak dikaruniakan usia yang panjang, setidaknya kami berdua sudah pernah melewati hari-hari yang indah bersama-sama.

Beberapa bulan yang lalu, saya mendapat kiriman surat dari Linda (kami memang sering saling berkirim surat semenjak pertemuan kami di Eropa bertahun-tahun lalu). Di suratnya Linda menceritakan bahwa Charles telah meninggal dunia, beberapa saat setelah peringatan ulangtahun pernikahan mereka yang ke-62. Herannya, saya tidak menangkap kesan kesedihan di dalam suratnya tersebut.

Bahkan dia mengatakan bahwa mereka berdua sudah sejak lama bersiap menghadapi momen perpisahan yang tak mungkin terelakkan oleh manusia manapun di dunia ini. Linda mengungkapkan bagaimana beruntungnya mereka bisa melewati saat kebersamaan yang panjang, dan bersyukur atas begitu banyak peristiwa yang boleh mereka jalani berdua. Dan ketika memang ‘saat’ itu tiba, yang terungkap justru rasa syukur karena telah diberi banyak kesempatan untuk menjalani hari demi hari bersama dengan orang yang dicintainya.

When you think your life is so short and when you always keep trying to fill up your days with cheers and laughter; someday you’ll be amazed, how many great moments you’ve been through in your lifetime. Itulah kalimat penutup yang ditulis Linda Graham dalam surat terakhir yang dikirimkannya pada saya.

Travel Hemat : Tips Jalan-jalan dengan biaya rendah

Dari umpan balik yang dilakukan oleh para pembaca blog saya ini, baik yang dikirim via form ataupun via comment, kebanyakan topik yang ditanyakan adalah tips-tips melakukan perjalanan ke bangkok dengan budget yang pas. Untuk beberapa hal saya bisa jawab, tapi tentu tidak semua karena saya belum pernah menjalani semua.

Bagi anda yang masih penasaran dengan tips-tips jalan-jalan murah, atau bagi yang mau jadi backpakers, berikut saya rekomendasikan kembali sebuah buku yang berbentuk ebook dari TravelHemat.

Buku karya rekan saya, Pak Agung Basuki begitu cepat berkembang dalam waktu singkat. Dimulai dari edisi TravelHemat seri Kuala Lumpur, Singapura, dan Bangkok. Sekarang sudah berkembang dengan terbitnya ebook edisi, Eropa, Italy, Paris, Swiss, Australia, dan China. Pak Agung Basuki sendiri adalah expert di bidang wisata dan telah berkeliling dunia, jadi apa yang ditulis dibuku tersebut bukan merupakan hasil karangan semata, tetapi adalah hasil pengalaman beliau dalam berkelana ke seluruh dunia. dapatkan Ebook TravelHemat  Sekarang juga disini .

Bangkok Musim Hujan

September Ceria, begitulah tag yang banyak dilontarkan orang ketika mulai september  mulai datang. Tapi bagi anda yang sedang mempersiapkan perjalanan ke Thailand dan sekitarnya pada bulan ini, tampaknya harus siap menghadapi cuaca yang kurang bersahabat. Ya, Hujan deras, angin kencang, petir dan kilat yang menggelegar menjadi pemandangan yang rutin setiap hari di awal bulan september ini. Kalaupun tidak hujan, mendung pun dengan setia menggelayut di kota Bangkok.

Efeknya bagi para wisatawan? Jelasnya tentu akan mengganggu kenyamanan perjalanan anda, dan yang kedua, seperti di Jakarta di waktu hujan, bangkok juga super macet..cet… Susah bergerak, kadang-kadang bisa tertahan lebih dari dua jam.

Ada pemandangan unik yang baru saya temukan di Thailand ini, yaitu area hujan yang batasnya sangat terkotak-kotak dan jelas. Misalnya saya berdiri di suatu tempat yang cerah di satu sisi, kira-kira 500 meter dari saya berdiri hujan sangat lebat, dan terlihata awan hitam yang menggulung-gulung dengan batas yang sangat kontras. Ini jarang saya temui di Indonesia, dimana batas daerah hujan dan tidak hujan, tidak begitu kontras, pasti ada area abu-abu seperti gerimis yang memisahkan keduanya.

So, jika anda memang masih ada jadwal ke Bangkok di bulan, persiapankanlah alat alat di kala hujan, seperti payung dan jas hujan.

Cheerful September.

Ramadhan di Thailand

Marhaban ya Ramadhan, tidak terasa kita sudah berada di kembali di bulan penuh rahmat, bulan ramadhan. Tahun ini merupakan tahun kedua saya merayakan ibadah puasa di negeri ini. Namanya berpuasa di negeri orang yang muslimnya minoritas, tentu sangat berbeda dengan di negeri sendiri. Yang jelas, suasana ramadhan tentu tidak akan terasa disini seperti di Indonesia. Kita tidak akan menemukan pedagang makanan untuk buka puasa yang ramai di sore hari, es buah, berbagai macam kolak, takjil dan sebagai macamnya.

Berpuasa di lingkungan orang yang tidak menjalankannya tentu lebih berat, namun disitulah hikmah yang kita depat. Semoga beratnya godaan dibalas dengan pahala yang setimpal. Amin…

Terus terang, saya ingin sekali mengunjungi beberapa masjid di Bangkok untuk shalat tarawih, di tahun lalu karena kesibukan niat itu tidak kesampaian, saya hanya tarawih di rumah. Semoga tahun ini diberikan kesempatan, dan saya bisa berbagi cerita di blog ini.

Marhaban ya Ramadhan, Selamat menjalankan ibadah puasa.