Berikut tulisan yang sangat inspiratif dari Pak Agung Basuki, pengeloal travel hemat. Mas Agung, ijin mengutip ya.
“If Life Is So Short….”
Oleh Agung Basuki TravelHemat.com
Saya pertama kali bertemu dengan Charles dan Linda Graham saat pasangan asal Amerika itu ikut serta dalam rombongan tur ke Eropa Barat yang saya pimpin, kira-kira 14 tahun yang lalu. Ketika itu mereka mengadakan perjalanan dalam rangka memperingati ulangtahun emas perkawinan mereka. Saya banyak berkomunikasi dengan mereka sebab mereka duduk di baris pertama pada bus yang kami kendarai sepanjang perjalanan, tepat di belakang bangku tempat duduk saya.
Selama 14 hari perjalanan mengunjungi 9 kota di 5 negara, pasangan yang sudah berusia lebih dari 70 tahun itu kerap menjadi perhatian saya. Bukan karena saya mengkhawatirkan kondisi fisik mereka yang mungkin kelelahan akibat perjalanan panjang, karena untuk ukuran kebanyakan orang seusianya, mereka tergolong cukup sehat dan lincah. Yang saya perhatikan justru bagaimana mereka tampak begitu menikmati setiap momen dalam perjalanan tersebut.
‘Pengamatan’ yang saya lakukan secara sembunyi-sembunyi terhadap mereka –entah dengan mencuri pandang melalui kaca spion bus yang kebetulan mengarah langsung pada mereka, atau memperhatikan bagaimana mereka berunding untuk menentukan mau pergi ke mana ketika acara bebas—membuat saya melihat ada sesuatu yang ‘berbeda’ diantara keduanya dibandingkan para peserta lain. Keduanya tampak sangat ceria, yang terpancar jelas dari raut wajah mereka yang sudah dipenuhi keriput.
Rasa penasaran saya atas pasangan Charles dan Linda belum sempat terjawab ketika perjalanan yang kami lakukan sudah harus berakhir. Seluruh rombongan berpisah untuk kembali ke tempat tinggal masing-masing, sementara saya melanjutkan hidup saya seperti biasa.
Setahun berikutnya, ketika ditugaskan untuk memimpin sebuah rombongan tur ke Eropa Timur, secara tak sengaja saya bertemu lagi dengan Charles dan Linda yang ternyata juga ikut serta dalam rombongan tur yang saya pimpin saat itu. Kali ini mereka melakukan perjalanan untuk merayakan ulangtahun perkawinan yang ke-51.
Lantaran sudah saling kenal sebelumnya, kami menjadi cepat akrab. Sebenarnya, saat itu saya hanyalah seorang tur leader pengganti lantaran tur leader yang seharusnya memimpin perjalanan tersebut mendadak jatuh sakit. Di awal perjalanan, saya berterus terang kepada para peserta tur bahwa saya kurang familiar dengan rute perjalanan kali ini.
Di luar dugaan, Charles secara diam-diam berbicara banyak tentang saya kepada para peserta tur lainnya berdasarkan pengalaman yang dialaminya saat ikut serta dalam rombongan tur yang saya pimpin setahun sebelumnya. Tentang bagaimana saya sudah menjadi tur leader yang menurut dia sangat baik dan caring serta berbagai hal-hal positif lainnya.
Berkat dia pulalah, sebagian besar peserta tur jadi memiliki penilaian positif terhadap saya. Konsekuensinya, saya jadi lebih tertantang untuk berbuat semaksimal mungkin, memberikan kualitas layanan yang terbaik dan memuaskan.
Pengalaman memimpin grup tur ke Eropa Timur saat itu adalah awal perjalanan karir saya sebagai seorang tur leader, namun justru di saat saya merasa banyak kemungkinan untuk melakukan kesalahan karena minimnya ‘jam terbang’ dan penguasaan medan, hampir seluruh peserta tur malah memberikan dukungan positif atas apa yang saya lakukan saat itu sehingga saya merasakan situasi yang nyaman sepanjang perjalanan tersebut. Dan semua itu disebabkan karena berbagai pernyataan positif yang disampaikan oleh Charles.
“Hidup ini terlalu singkat untuk dijalani, kalau bisa membuatnya lebih indah, kenapa harus dijalani dengan airmata. Kalau bisa memotivasi orang lain dengan pujian, mengapa kita harus menyampaikannya dengan celaan?” demikian kata Linda saat saya menyampaikan terimakasih atas ‘promosi’ yang dilakukan suaminya untuk saya.
Prinsip life is too short yang dianut oleh Charles dan Linda itu membuat saya merenung tentang makna hidup yang sudah saya jalani saat ini. Usia pernikahan yang mereka jalani hingga sanggup mencapai angka di atas 50 tahun adalah suatu hal yang langka, dan menurut saya perjalanan hidup mengarungi kehidupan selama 70 tahun lebih bukanlah waktu yang singkat pula.
“Kita tidak pernah tahu kapan hidup ini bakal berakhir, kapan saat terakhir kita bakal bertemu dengan orang yang kita kasihi. Bisa saja besok saya atau kamu dipanggil Tuhan, dan alangkah menyesalnya kita ketika menyadari betapa banyak hal yang sebenarnya ingin kita capai, ternyata tidak pernah terwujudkan.
Jika setiap saat kita berpikir bahwa hidup ini terlalu singkat untuk dijalani, maka kita akan termotivasi untuk memberikan makna terbaik pada hari-hari yang kita jalani saat ini,” demikian ungkap Charles panjang lebar. “Dan jika pada kenyataannya kita diberi anugerah untuk menjalani hidup ini lebih lama, bukankah hari-hari yang sudah kita lalui bakal menjadi rangkaian kenangan nan indah?
Selama kehidupan pernikahan kami, rasanya kami tidak sempat meributkan hal-hal kecil karena waktu kami telah tersita dengan pemikiran bagaimana mengisi hari-hari ‘pendek’ kami dengan sebaik mungkin.”
Perkataan Charles dan Linda itu terus melekat di benak saya hingga kini. Prinsip hidup yang mereka anut telah berhasil mempengaruhi jalan pemikiran saya, sehingga sejak saat itu saya menjalani kehidupan dengan lebih bersemangat.
Ketika menikah beberapa tahun yang lalu, saya bersama istri juga telah bersepakat untuk menjalani kehidupan ini dengan prinsip ‘life is so short’. Setiap saat kami selalu berpikir bagaimana caranya agar mengisi hari-hari kami dengan sebaik mungkin. Peringatan hari ulang tahun saya dan istri, maupun ulangtahun pernikahan, kami menjadi ajang untuk introspeksi tentang hari-hari yang telah kami lewati bersama, sekaligus merencanakan apa yang akan kami lakukan untuk kurun waktu setahun ke depan.
Kami menjadi lebih ekspresif dalam mengungkapkan isi hati dan perasaan masing-masing dan tidak ragu-ragu untuk saling mempersembahkan yang terbaik dan berupaya untuk saling membahagiakan satu sama lain. Setiap kali ada konflik yang terjadi, kami berupaya untuk menyelesaikannya dengan sesegera mungkin.
Banyak orang yang mengatakan bahwa kehidupan rumah tangga yang kami jalani barulah ‘seumur jagung’, sehingga saat ini kami baru menikmati yang manis-manis saja. Memang benar, selama hampir dua tahun kehidupan pernikahan kami, hampir bisa dipastikan kami jarang bertengkar. Perselisihan memang ada, namun kami berdua senantiasa mengupayakannya agar persoalan yang kami hadapi tidak melebar dan meluas ke mana-mana. “If you can make it simple, why make it hard?”, begitu kata Linda.
Apabila setiap saat kami mempertahankan prinsip yang sama dalam menjalani hidup ini, dan ketika nantinya kami dikaruniakan umur panjang untuk bisa merayakan ulangtahun pernikahan yang ke-10, 20, 30 atau bahkan yang ke-50 seperti Charles dan Linda, wow…. betapa bernilainya hari-hari yang telah kami jalani selama ini, dan betapa banyak kenangan indah yang telah terukir sepanjang kehidupan ini.
Dan kalaupun toh kami tidak dikaruniakan usia yang panjang, setidaknya kami berdua sudah pernah melewati hari-hari yang indah bersama-sama.
Beberapa bulan yang lalu, saya mendapat kiriman surat dari Linda (kami memang sering saling berkirim surat semenjak pertemuan kami di Eropa bertahun-tahun lalu). Di suratnya Linda menceritakan bahwa Charles telah meninggal dunia, beberapa saat setelah peringatan ulangtahun pernikahan mereka yang ke-62. Herannya, saya tidak menangkap kesan kesedihan di dalam suratnya tersebut.
Bahkan dia mengatakan bahwa mereka berdua sudah sejak lama bersiap menghadapi momen perpisahan yang tak mungkin terelakkan oleh manusia manapun di dunia ini. Linda mengungkapkan bagaimana beruntungnya mereka bisa melewati saat kebersamaan yang panjang, dan bersyukur atas begitu banyak peristiwa yang boleh mereka jalani berdua. Dan ketika memang ‘saat’ itu tiba, yang terungkap justru rasa syukur karena telah diberi banyak kesempatan untuk menjalani hari demi hari bersama dengan orang yang dicintainya.
When you think your life is so short and when you always keep trying to fill up your days with cheers and laughter; someday you’ll be amazed, how many great moments you’ve been through in your lifetime. Itulah kalimat penutup yang ditulis Linda Graham dalam surat terakhir yang dikirimkannya pada saya.
Bila ada acara wisata dan dihadapkan pada dua pilihan, gunung apa pantai, saya lebih sering memilih gunung. Gak tau kenapa, tapi memang saya lebih suka udara pegunungan yang dingin dan sejuk dibandingkan dengan udara di pantai yang panas. Mungkin karena dari lahir saya tinggal di pegunungan dan sebagian besar hidup saya dihabiskan di dataran tinggi, tubuh saya sudah beradaptasi. Paling tidak, selama ini saya berkelana dan hidup di tiga gunung. Pertama , tentu saja di tempat saya di lahirkan dan dibesarkan. Di sebuah kampung kecil, di gugusan pegunungan bukit barisan. Namanya Situjuh Tungkar, terletak kira-kira 100 km ke arah timur laut kota Padang, dekat perbatasan propinsi Sumbar dan Riau, dan kalau dilihat di Peta, letaknya kurang lebih pas di garis khatulistiwa. Tempat ini sangat indah, karena berada di pegunungan, daerah dataran yang rata sangat sedikit. Kalaupun ada, sawah, itu dibuat dengan berundak. Rumah saya saja berada di pinggir tebing, yang mempunyai hamparan pemandangan yang ciamik. Tidak jauh dari situ, jika turun ke bawah ada sungai kecil yang airnya jernih dan biasanya saya dan teman2 masa kecil suka mandi disana. Gunung kedua yang saya tinggali adalah Kota Magelang, tepatnya di daerah Mertoyudan, di pinggir jalan dari Magelang ke Purworejo. Terus terang kota ini luar biasa dari segi geografis dan keindahan alamnya, kadang dikenal juga dengan nama lembah tidar, terletak di kaki Gunung Sumbing, Merapi dan Sundoro. Tiga tahun saya berdiam disini saat bersekolah di SMA Taruna Nusantara. saya sangat menikmati pemandangan dan udaranya yang sangat sejuk. Ketika harus bangun pagi berolahraga, kemudia apel pagi, hamparan
Gunung Sumbing yang tampak gagah seakan2 sebagai dinding yang melindungi, terasa sangat2 indah yang kadangkala diselimuti awan putih. Di bagian sebaliknya terhamparan, pemandangan gunung Merapi dan Merbabu, dan Sundoro. Lepas dari kawah candra dimuka Lembah Tidar, Saya menuju ke Lembah Gunung Tangkuban Parahu, tepatnya Bandung untuk menuntut ilmu di ITB. Bandung merupakan kota yang punya geografis yang sangat indah. Kombinasi kehidupan kota yang maju dan modern, dengan alam pegunungan dan pedesaan, membuat kota ini merupakan tempat yang sangat enak ditinggali. Apalagi ang masih di pinggiran kota dan kearah utara, seperti dago utara dan sekitarnya… hmm pemandangannya luar biasa. Hmmm… itulah pegunungan yang pernah saya jajali, dan suatu saat saya akan kembali untuk tinggal dan meneap di Gunung.
Sebagai orang asing dan bekerja di kantor regional, tentu saja rekan kerja saya berasal dari berbagai negara. Emang sih yang paling banyak sehari-hari tentu berhubungan dengan rekan2 dari Thailand, sebagai negara tempat kantor regional ini berada. Namun, ada juga rekan2 dari negara lain, tiap hari ketika berangkat ke kantor, di van saya ada rekan dari Malaysia, India, Philipina dan Taiwan. Di kantor saya, ada rekan (bos) dari Jepang, Singapura, hingga Australia. Di tempat tinggal saya, lebih banyak lagi, ada rekan dari Afrika Selatan, Pakistan, hingga Argentina.
Indonesia?… he..he… udah tau ya, gak usah dijelasin. Yang jelas, kalau bagi saya sih, balance of live atau keseimbangan hidup sangat-sangat perlu. Kerja adalah kegiatan untuk mencari makan dan mendapat kesempatan untuk mengenal dan bergaul dengan orang lain. Jadi porsi untuk kerja,keluarga dan diri sendiri haruslah imbang. Nikmatilah hidup, bekerjalah hingga larut malam jika memang dibutuhkan, tapi jika bisa pulang on time, jangan mencari-cari kerja hingga bisa pulang larut malam. Banyak orang yang berasumsi, pulang lebih larut akan memberikan nilai tambah bagi kita di mata perusahaan, mungkin ada benarnya, tapi tidak selalu dengan cara itu kan?.. Orang yang pulang larut malam, belum tentu semuanya adalah pekerja keras, bisa jadi orang yang tidak efektif atau overloaded, sehingga waktu kerja normal tidak cukup baginya untuk menyelasaikan pekerjaan. Saya suka melihat orang2 eropa yang lebih
memilih kenyamana hidup, di eropa, jam 4 atau lima, semua toko2 sudah tutup, semua orang sudah pulang kerja dan menghabiskan waktu di bar atau kedai kopi. Beda dengan Amerika, jam 11 malam, kantor2 masih terang, masih bnayak orang yg ngendon di kantor untuk bekerja atau hanya sekedar menghabiskan waktu karena malas pulang cepat. Bagi saya, Tidak ada kata2 yang bisa melukiskan kebahagiaan dalam hidup saya jika bisa pulang on time, dan di pintu rumah disambut bidadari kecil saya, Arina, 4 thn, dan da bercerita tentang kegiatannya hari ini atau memamerkan barang baru yang baru dibelinya pada hari ini. Hilang semua penat dan capek yang mendera di kepala.